WHO Tegaskan Bahwa Pandemik COVID-19 Masih Jauh Dari Akhir

WHO Tegaskan Bahwa Pandemik COVID-19 Masih Jauh Dari Akhir

WHO Tegaskan Bahwa Pandemik COVID-19 Masih Jauh Dari Akhir – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa Covid-19 yang kini berstatus pandemik atau pandemi kelak akan menjadi endemik. Sejak muncul kali pertama di China, Covid-19 yang berawal dari virus corona dari keluarga SARS telah menjelma menjadi pandemi setelah menyebar dengan cepat dan menginfeksi jutaan orang di dunia.

Pakar WHO mengatakan bahwa pandemi Covid-19 ini, bisa menjadi endemik. Meskipun pandemi virus corona yang dihadapi dunia saat ini sangat parah, namun fenomena ini belum tentu besar. Oleh sebab itu, WHO mengingatkan agar masyarakat dunia dapat Download Club388 APK belajar hidup berdampingan dengan Covid-19. Direktur Jenderal (Dirjen) World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan pandemik COVID-19 masih jauh dari akhir. Kendati begitu, mulai terlihat tanda-tanda virus ini bisa dikendalikan.

Dilansir dari World O Meter, hingga Selasa (13/4/2021) pukul 07.25 WIB, tercatat COVID-19 telah menginveksi 137 juta orang di seluruh negara. Lebih dari 2,9 juta orang meninggal setelah terpapar virus ini. “Pandemik COVID-19 masih jauh dari selesai. Tapi, kami punya banyak alasan untuk optimis. Penurunan kasus dan kematian selama dua bulan pertama tahun ini menunjukkan bahwa virus ini dan variannya bisa dihentikan,” kata Tedros dalam sebuah konferensi pers

1. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan adalah senjata utama

WHO Tegaskan Pandemik COVID-19 Masih Jauh Dari AkhirWarga mendengarkan arahan dari pihak kepolisian tentang protokol kesehatan di Manado, Sulawesi Utara, Senin (14/9/2020). Pihak Kepolisian, Satpol PP dan TNI gencar melaksanakan patroli yustisi untuk menyadarkan pentingnya kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebarab COVID-19. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono

Mantan Menteri Kesehatan Ethiopia itu menuturkan, pandemik COVID-19 tak kunjung berakhir karena masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Penularan disebabkan oleh kebingungan (terhadap protokol kesehatan), kepuasan diri, dan tidak konsisten dalam langkah-langkah kesehatan masyarakat,” terang Tedros.

Dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak cepat merasa puas ketika tren penambahan kasus harian mengalami penurunan. Kebanyakan dari mereka yang puas, terkhusus anak muda, akan abai terhadap protokol kesehatan.

“Beberapa orang tampaknya mengira, tidak masalah tertular COVID-19 jika mereka relatif muda,” ujarnya, merujuk pada klub malam dan restoran di sejumlah negara yang dipadati oleh generasi muda.

2. Lebih dari 87 persen pasokan vaksin COVID-19 masuk ke negara-negara kaya

Kendala lainnya datang dari distribusi vaksin yang tidak merata. Berdasarkan catatan WHO, dari 700 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan ke seluruh dunia, lebih dari 87 persen telah dimiliki oleh negara-negara kaya.

“Sementara, negara-negara berpenghasilan rendah hanya menerima 0,2 persen,” terang Tedros pada Jumat (9/4/2021) lalu.

Menurut Tedros, rata-rata satu dari empat orang di negara berpenghasilan tinggi telah menerima vaksin virus corona. Sementara hanya satu dari lebih dari 500 orang di negara berpenghasilan rendah yang telah mendapatkan vaksin.

Dalam pernyataannya, Tedros juga mengatakan ada kekurangan dosis untuk COVAX, aliansi global yang bertujuan untuk menyediakan vaksin virus corona bagi negara-negara miskin.

“Kami memahami beberapa negara dan perusahaan berencana untuk melakukan donasi vaksin bilateral, melewati COVAX karena alasan politik atau komersial mereka. Pengaturan bilateral ini berisiko memperparah ketidakadilan vaksin,” papar dia.

3. Bank Dunia minta negara-negara maju membagikan vaksinnya

Dilansir dari Channel News Asia, Presiden World Bank, David Malpass, dan ketua aliansi vaksin GAVI, Jose Manuel Barroso, mendesak agar negara-negara maju segera membagikan pasokan vaksinnya kepada negara-negara berkembang.

Kedua pejabat itu menekankan pentingnya transparansi vaksin oleh negara-negara maju, pemasok, dan keterbukaan kontrak ekspor-impor atau komitmen pembelian vaksin.

Malpass menegaskan perlunya mempercepat vaksinasi untuk mengatasi pandemik dan membatasi kerusakan ekonomi lebih lanjut. Pekan lalu, dia memperingatkan lambatnya peluncuran vaksin di Eropa dapat membebani pertumbuhan ekonomi kawasan.

Pada Senin, World Bank mengumumkan komitmennya untuk mengalokasikan dana senilai 1,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari 12 miliar dolar yang telah disediakan untuk pengembangan, distribusi dan produksi vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Dana itu dapat digunakan untuk melakukan pembayaran bersama bakal inisiatif distribusi vaksin COVAX, dan untuk membeli dosis tambahan di luar cakupan populasi dasar 20 persen.