Tradisi Kelahiran Anak Masyarakat Sunda

Tradisi Kelahiran Anak Masyarakat Sunda

Tradisi Kelahiran Anak Masyarakat Sunda

Tradisi Kelahiran Anak Masyarakat Sunda – Ada beberapa tahap ritual adat daur hidup masyarakat Sunda. Upacara-upacara digelar mulai dari masa kehamilan, kelahiran, masa anak-anak, pernikahan, hingga kematian.

Pada masa kehamilan, masyarakat Suku Sunda sudah mengadakan ritual empat bulan. Pada usia kehamilan tersebut adalah waktu ketika roh bayi ditiupkan kepada janin. Kemudian ada serangkaian tradisi kelahiran anak yang digelar untuk keselamatan dan kebahagiaan.

UPACARA MENGANDUNG TUJUH DAN SEMBILAN BULAN

Saat usia kehamilan memasuki bulan ketujuh, digelar Upacara Tingkeban. Ritual ini dilakukan dengan melakukan upacara memandikan ibu hamil oleh 7 orang keluarga terdekat menggunakan 7 lembar kain batik dan air kembang 7 rupa.

Pada guyuran terakhir, ditambahkan seekor belut hingga mengenai perut ibu hamil. Belut yang licin merupakan simbolisasi harapan agar ketika proses kelahiran nanti dapat dilancarkan.

Kemudian setelah dimandikan dan dirias, ibu hamil dibawa ke tempat yang sudah tersedia rujak kanistren. Rujak ini merupakan kudapan dengan komposisi 7 macam buah-buahan.

Dalam ritual rujak kanistren, ibu hamil akan menjual rujak tersebut kepada para tamu. Rujak tersebut dibeli dengan menggunakan genteng berbentuk koin yang dinamakan talawengkar. Seluruh peralatan upacara kemudian dibuang oleh sang suami ke jalan persimpangan.

Ada pun ritual lain ketika usia kehamilan memasuki bulan kesembilan. Dalam upacara kali ini dibuat makanan tradisional bubur lolos.

Bubur dengan bahan dasar tepung beras, tepung ketan, dan tepung kanji ini dibungkus dengan daun pisang dengan salah sisi yang tidak ditutup.

Bubur lolos disajikan bersama dengan digelarkan pengajian untuk mendoakan bayi di dalam kandungan. Kudapan ini menjadi simbol harapan kemudahan dalam proses melahirkan.

MENGUBUR TEMBUNI

Ketika bayi lahir, ada salah satu tradisi kelahiran anak yakni ritual penguburan tembuni (plasenta). Selain dikubur, tembuni juga bisa dihanyutkan ke sungai. Tembuni dianggap sebagai saudara bayi, maka dari itu tidak boleh dibuang sembarangan.

Sebelum dikubur atau dihanyutkan, tembuni terlebih dulu dibersihkan dan dimasukan ke dalam wadah yang terbuat dari tanah liat bernama pendil. Di dalam pendil, tembuni dicampur garam, asam, dan buah merah. Kemudian ditutup menggunakan kain berwarna putih.

Pendil yang berisi tembuni biasanya dikubur di halaman dekat rumah. Proses penguburan pendil dilakukan dengan membaca doa keselamatan. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk harapan agar bayi yang dilahirkan menjadi orang yang selamat dan bahagia.

UPACARA EKAH

Tradisi kelahiran anak berikutnya adalah pelaksanaan Upacara Ekah berlangsung ketika bayi berusia 7 hari atau 14 hari. Kata “ekah” berasal dari Bahasa Arab “aqiqatun” yang berarti anak kandung.

Dalam penyelenggaraan Upacara Ekah biasanya disiapkan domba atau kambing untuk disembelih. Bagi anak laki-laki, jumlah domba harus dua, sedangkan perempuan hanya satu ekor.

Domba atau kambing disembelih dengan syarat kurban oleh ahlinya. Setelah disembelih, dagingnya dimasak dan dibagian kepada saudara dan tetangga terdekat.

Comments are closed.