Tradisi Bakar Tongkang di Riau

Tradisi Bakar Tongkang di Riau Habiskan Dana Rp 600 Juta

Tradisi Bakar Tongkang di Riau – Teriknya sengatan panas matahari serta sumbangan secepatnya dari bakaran Hio (Dupa Sembahyang) tak menyortir minat masyarakat untuk menyaksikan tradisi budaya ritual Bakar Tongkang digelar, Rabu siang, di kota Bagansiapiapi.

Tidak hanya ribuan orang Tionghoa dari lokal maupun luar Riau, juga dimeriahkan untuk perantau Tionghoa Bagansiapiapi di luar negeri, ikut juga.

Setiap tahun, masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi melangsungkan Tradisi Bakar Tongkang. Tak kurang Rp 600 juta dihabiskan untuk menggelar acara ini.

Masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi ibukota Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) Riau setiap tahun membuat festival bakar tongkang (kapal). Festival 2020 kali ini dana yang dikeluarkan mencapai Rp 600 juta.

Rendy menjelaskan, seluruh rangkaian acara yang digelar masyarakat Tionghoa di Kota Bagan, merupakan dana swasana. Pihak panitia sama sekali tidak meminta dana kepada pemerintah.

“Ini merupakan dana warga (Tionghoa) sendiri. Seluruh acara ritual juga dilakukan masyarakat sendiri,” kata Rendy. Terkait pemerintahan dalam festival ini, lanjut Rendy, hanya sebatas memberikan pengamanan, mengatur lalu lintas. “Jadi semuanya (dana bakar tongkang) ditanggung bersama warga,” kata Rendy.

Riau setiap tahun membuat festival bakar tongkang (kapal)

Rendy menjelaskan, dana festival yang mencapai Rp 600 juta ini digunakan untuk Daftar Sbobet365membuat replika kapal yang akan dibakar. Ini ditambah lagi pernak pernik untuk melengkapi tradisi bakar tongkang.Sekedar untuk diakui, tradisi bakar tongkang warga Tionghoa ini telah dilaksanakan sejak 135 tahun lalu. Ini untuk mengenang leluhur mereka yang dulunya merantau dari Fujian Cina ke Bagansiapiapi.

Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Esty Reko Astuti serta berbagi undangan lain hadir di kelenteng Di Hok King untuk membuka kapal tongkang menuju tempat ritual pembakaran yang dapat dijalan perniagaan.

Replika kapal tongkang itu dilakukan dengan cara di gotong selama dua kilometer mulai jalan kelenteng menuju jalan perniagaan tempat ritual. Perjalanan tongkang diiringi tang ki atau loya dari seluruh perwakilan kelenteng yang ada di Bagansiapiapi.

Bakar Tongkang merupakan tradisi Tionghoa yang datang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, beberapa abad yang lalu. Bakar tongkang terdiri dari ritual membakar replika kapal yang dimaksudkan untuk menerima ucapan terima kasih kepada dewa atas rezeki yang mereka terima di tanah perantauan.

Tongkang selalu menarik minat warga Tionghoa dari berbagai daerah di Tanah Air untuk datang ke Bagansiapiapi. Kegiatan yang telah dikemas menjadi agenda wisata tahunan di Provinsi Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *