Sri Mulyani Bicara Tantangan RI Jadi Negara Menengah Atas

Sri Mulyani Bicara Tantangan RI Jadi Negara Menengah Atas

Sri Mulyani Bicara Tantangan RI Jadi Negara Menengah Atas

Sri Mulyani Bicara Tantangan RI Jadi Negara Menengah Atas – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tidak semua negara yang masuk dalam kategori berpendapatan menengah atas (upper middle income) bisa naik kelas menjadi berpendapatan tinggi (high income country).

Menurutnya, banyak yang justru terjebak menjadi negara berpendapatan menengah atas.

“Jadi upper middle income belum tentu jadi high income, banyak negara upper middle sampai 30 tahun,” kata Sri Mulyani, Selasa.

Bendahara negara itu menyampaikan hanya sedikit negara di Asia yang bisa naik kelas menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Negara yang berhasil mendapatkan status itu ialah Singapura dan Korea Selatan.

Sementara, sejumlah negara lainnya malah masih terjebak menjadi negara berpendapatan menengah atas. Negara-negara itu, seperti Malaysia, Brazil, China, Thailand, dan termasuk juga Indonesia.

Diketahui, Indonesia sendiri baru saja dijadikan sebagai negara berpendapatan menengah atas oleh Bank Dunia (World Bank).

 

Negara Bisa Naik Kelas

Tetapi, bukan berarti Indonesia bisa melenggang lebih gampang untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi.

“Indonesia harus berusaha agar tidak terjebak di kondisi sebagai negara berpendapatan menengah atas, karena memang hanya sedikit negara yang bisa melewati level negara berpendapatan menengah atas,” terang Sri Mulyani.

Menurut dia, setiap pemerintah harus tahu situasi atau persoalan negaranya untuk bisa naik kelas menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Situasi ini, contohnya dari sisi produksi, daya saing, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Oleh karena itu lihat faktor pondasi yang menentukan produksi, daya saing, dan kualitas SDM,” terang Sri Mulyani.

Sebagai informasi, Bank Dunia membuat klasifikasi negara berdasarkan GNI per capita dalam empat kategori. Rinciannya, low income (US$1.035), lower middle income (US$1.036-US$4.045), upper middle income (US$4.046-US$12.535), serta high income (di atas US$12.535).

Bank Dunia memakai klasifikasi ini sebagai salah satu faktor untuk menentukan suatu negara memenuhi syarat memakai fasilitas dan produk, termasuk loan pricing (harga pinjaman).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikian kenaikan status Indonesia menjadi kategori negara berpenghasilan menengah atas adalah sebuah peluang besar.

Ia menargetkan agar Indonesia bisa berhasil menjadi negara dengan penghasilan tinggi.

Hanya saja, Indonesia masih mempunyai tantangan besar berupa disrupsi dan hiperkompetisi.

Persaingan antarnegara yang semakin ketat menuntut agar Indonesia semakin cepat, fleksibel, dan terus berinovasi.

“Untuk itu, Indonesia harus digerakkan semangat juang yang tinggi. Dipandu akhlak mulia dan jiwa pengabdian kepada bangsa dan negara dan dibarengi ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelas Jokowi.

Comments are closed.