Krisis Covid-19 di India Terparah di Dunia

Krisis Covid-19 di India Terparah di Dunia

Krisis Covid-19 di India Terparah di Dunia – virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan. Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.

Covid-19 masih membayang-bayangi berbagai negara di dunia. Meski telah ada vaksin Covid-19, pandemi ini belum berakhir.

Masyarakat dunia diminta untuk tetap waspada. Diharapkan untuk menjauhi kerumuman untuk sementara waktu. Sayangnya, India dianggap lalai.

Kasus Covid-19 di India tertinggi di dunia selama lima hari terakhir. Tercatat, terdapat 17.636.307 kasus positif.

Dari data Club388 Indonesia, mencata terdapat 197.894 angka kematian di India.

Seperti apa perkembangan kasus Covid-19 di India. Cek informasinya di

1. Ritual keagamaan membawa bencana
1. Ritual keagamaan membawa bencana

Kasus Covid-19 di India dipercaya akibat kegiatan keagamaan yang baru saja dilakukan masyarakat. Di tengah pandemi, mereka tetap nekat melakukan rtiual mandi di Sungai Gangga, menyebabkan kerumuman parah, diwartakan Aljazeera.

Ratusan ribu menghadiri Festival Pitcher di kota utara Haridwar, salah satu ziarah paling sakral dalam agama Hindu. Acara ini menyebabkan rekor harian tertinggi di India sampai 168.912 kasus positif.

“Kerumunan di sini melonjak. Polisi terus memohon kepada orang-orang untuk menjaga jarak, tapi tak ada yang mendengarkan. Mereka berkerumun sampai pasokan udara terasa menipis,” kata Sanjay Gunjyal, polisi yang menjaga tempat tersebut.

2. Kekurangan tim medis
2. Kekurangan tim medis

Selain itu, India menghadapi kekurangan tenaga medis. Selain itu, kondisi rumah sakit yang mengkhawatirkan.

Permintaan oksigen dan tempat tidur di rumah sakit terus meningkat. Namun India belum bisa memenuhiny. Akibatnya, banyak pasien yang terlantar.

Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Jerman, telah menawarkan bantuan. Mereka juga siap menggelontorkan bantuan berupa uang untuk India.

3. Gelombang baru Covid-19 di India
3. Gelombang baru Covid-19 India

India tengah menghadapi gelombang kedua Covid-19. India kewalahan dengan keganasan Covid-19 seperti itu bahwa rumah sakit kehabisan oksigen, tempat tidur, dan obat-obatan anti-virus.

Sirene ambulans terdengar sepanjang hari di jalan-jalan yang sepi di ibukota. Banyak pasien telah ditolak karena tidak ada ruang perawatan.

Korban meninggal dunia terpaksa langung dikremasi secara massal. Pemerintah India melakukan lockdown untuk mencoba membendung transmisi virus.

4. Rendahnya vaksinasi di India
4. Rendah vaksinasi India

World Health Organization (WHO) langsung memberika tanggapan terkait kasus Covid-19 di India yang mengganas. WHO menemukan kondisi di India terjadi akibat kerumuman, rendahnya vaksinasi, juga munculnya varian baru.

Varian baru Covid-19 di India yaitu B.1.617. Disebutkan lebih parah dan mudah menular, membawa transmisibilitas yang lebih tinggi mirip dengan varian Inggris.

Varian B.1.617 dari SARS-COV2, juga disebut ‘mutan ganda’ atau ‘strain India’, telah ditemukan lazim sebagian besar di Maharashtra dan Delhi. Dua wilayah di India ini terpukul paling parah akibat gelombang kedua pandemi.

Varian B.1.617 ditemukan di lebih dari 50 persen sampel di mana sekuensing genom dilakuka. Sedangkan proporsi varian Inggris didapatkan pada 28 persen sisanya.

5. Proses kremasi dilakukan secara massal di tempat parkir
5. Proses kremasi dilakukan secara massal tempat parkir

Pasien Covid-19 di India berjuang seorang diri tanpa ditemani sanak keluarga. Saat menutup mata, tidak ada yang boleh melayat.

Akhirnya jenazah pasien Covid-19 banyak yang menumpuk di rumah sakit. Melansir dari The New York Times, beberapa ada yang telah dipindahkan ke krematorium.

Namun tempat bakar jenazah kewalahan. Akhirnya, beberapa mayat terpaksa dikremasi secara massal di tempat parkir. Bahkan, beberapa mayat dikremasi tanpa dilakukan sesuai ritual keagamaan atau diketahu identitasnya.

Semoga India bisa segera menangani kasus Covid-19 terparah di negaranya. Masyarakat dunia juga berharap pandemi Covid-19 segera berakhir.