Kapasitas Penumpang KRL Bogor

Kapasitas Penumpang KRL Bogor

Kapasitas Penumpang KRL Bogor

Kapasitas Penumpang KRL Bogor – Jawa Barat bakal melakukan tes Covid-19 secara acak kepada penumpang KRL di Stasiun Bogor dan Bojong Gede. Hal ini dilakukan untuk mencegah munculnya kasus penularan baru yang berasal dari luar daerah.

“Kami akan lacak di Stasiun Bogor dan Bojong Gede. Saat ini kami terus melakukan persiapan operasi gabungan dan pengetesan masif,” ucap Koordinator Sub Divisi Pengawasan Massa dan Penegakan Aturan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat (Jabar) Dedi Taufik Kurrohman dalam jumpa pers di Gedung Sate, Kota Bandung.

Pengguna KRL di Stasiun Bogor dan Bojong Gede diketahui mencapai 250 ribu orang per hari. Pengawasan dan pengetesan disebut dilakukan sebagai pendeteksian dini mengingat Jabodetabek merupakan episentrum penyebaran Covid-19.

Dedi menilai operasi gabungan dan pengetesan masif efektif mencegah meluasnya pandemi.  Berbagai pihak terlibat dalam pengawasan ini, di antaranya gugus tugas provinsi, kabupaten/kota, TNI/Polri, sampai operator KRL.

“Bagaimana kita mendeteksi awal agar nanti yang mau masuk Jabar betul-betul dalam kondisi sehat. Karena wilayah Jabar sudah dalam kondisi yang lebih baik,” tuturnya.

Stasiun Bogor dipadati pengguna KRL pagi tadi hingga menyebabkan antrean panjang. Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim ingin agar PT KAI bisa mengkaji ulang tentang kapasitas penumpang di tiap gerbong.

“Makanya kita sedang mendorong kepada PT KAI melalui Daop 1 untuk membuat kajian tentang peningkatan jumlah kapasitas penumpang di dalam gerbong dengan konfigurasi susunan penumpang baru,” kata Dedie, ketika dihubungi, Senin.

Dedie menjelaskan ada bus gratis tujuan Jakarta di Stasiun Bogor yang bisa dipakai warga untuk pergi bekerja. Namun, lanjutnya, berapa pun jumlah bus yang disediakan tak akan mampu mengatasi kepadatan di KRL. Sebab, kata dia, bus gratis hanya mampu menampung 50 persen penumpang.

“Kenapa? Karena penurunan kapasitas gerbong penumpang KRL itu kan saat ini mestinya 220, hanya bisa diisi 60 (orang). Nah jadi coba dibayangkan, kompensasikan dengan bus berarti tetap saja hitungannya tidak sampai,” jelas dia.

“Jadi gini kita sudah minta kepada PT KAI untuk melakukan kajian, kemungkinan penambahan kapasitas gerbong, dari 60 ke 100 (orang). Tujuannya tadi untuk mengurai kepadatan penumpang di jam sibuk ya, karena tidak mungkin tercukupi berapapun jumlah bus yang disediakan,” sambung Dedie.

Lebih lanjut, bila jumlah maksimal di tiap gerbong bisa ditambah, Dedie mengusulkan agar pengguna KRL memakai face shield. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi penularan COVID-19.

“Penumpang disarankan memakai face shield. Itu sebagai salah satu syarat untuk menambah jumlah penumpang dari 60 menjadi 100 (orang). Dari kapasitas normal 220, itu sudah kita sarankan,” kata dia.

Sempat ada antrean mengular panjang di Stasiun Bogor pada pagi ini. Pengguna KRL pun mengaku khawatir tertular Corona (COVID-19).

“Sangat khawatir sih kalau saya,” kata pengguna KRL, Kusni Husni, di Stasiun Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin.

Kusni mengaku setiap hari memakai transportasi KRL untuk pergi bekerja ke Jakarta. Setiap Senin, menurutnya, adalah waktu di mana masyarakat paling banyak menaiki KRL dibanding hari lain.

Agar mengurangi penumpukan dan antrean di stasiun, dia ingin waktu operasional KRL ditambah pada hari Senin. “Kurang etis saja kalau kata saya, soalnya ini mengikuti ruang banyak, gitu. Kalau misalkan antre jangan kaya gini (panjang mengular), gitu,” ungkapnya.

Pengguna KRL lainnya, Iwan Setiawan memperkirakan antrean di Stasiun Bogor terjadi karena ada wabah COVID-19. Menurutnya, kepadatan juga terjadi karena kehidupan mulai kembali normal atau sudah tidak ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *